Thursday, 4 October 2012

Hukum Melipat Pakaian Ketika Solat...





Diantara kesalahan sebahagian orang yang melaksanakan solat, ialah mereka menyingsingkan pakaian sebelum melakukan solat. Perkara seperti ini dilarang dalam syari’at kita. Kita diperintahkan untuk membiarkan pakaian kita, tanpa harus ditahan, dan disingsingkan sebagaimana halnya orang yang berambut panjang diperintahkan agar rambutnya dibiarkan, tanpa disampirkan ke belakang.

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ وَلَا أَكُفَّ ثَوْبًا وَلاَ شَعا

"Aku diperintahkan sujud di atas tujuh anggota badan, tidak menahan rambut dan tidak pula menahan pakaian".

(HR. Al-Bukhari, Muslim dalam Kitab Ash-Sholah, Abu Dawud, An-Nasa'i dalam Kitab Ash-Sholah, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah)

Ibnu Khuzaimah-rahimahullah- membuatkan judul bagi hadis ini, "Bab: Larangan Menahan Pakaian dalam Solat".

(Sahih Ibnu Khuzaimah)

Imam Nawawi-rahimahullah berkata, "Para ulama telah sepakat tentang terlarangnya melakukan solat sedang pakaian atau lengannya tersingsingkan".

(Al-Minhaj Syarah Sahih Muslim)

Al-Imam Malik telah berkata tentang orang yang solat dalam keadaan menyingsingkan lengan pakaiannya, "Jika demikian keadaan pakaiannya dan keadaannya sebelum melakukan solat, di mana dia sedang melakukan suatu perbuatan, yang menyebabkan ia menyingsingkan pakaiannya. Kemudian dia melakukan solat dalam keadaannya itu, maka tidaklah mengapa dia solat dalam keadaan demikian itu. Jika ia melakukannya semata-mata untuk menahan rambut dan pakaian itu, maka tidak ada kebaikan baginya".

(Al-Mudawwanah Al-Kubro)


Apa yang dinyatakan oleh Al-Imam Malik rahimahullah- disanggah oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah- ketika beliau berkata, "Lahiriahnya larangan itu bersifat muthlaq, baik dia menyingsingkannya untuk shalat maupun sebelumnya telah menyingsingkannya, lalu shalat dalam keadaan seperti itu".

(Al-Qoul Al-Mubin)


Setelah An-Nawawi membicarakan tentang hal ini pada pembicaraan sebelumnya, dia berkata,"Larangan menyingsingkan pakaian adalah larangan makruh tanzih. Kalau dia solat dalam keadaan seperti itu, berarti dia telah memperburuk solatnya, meskipun solatnya tetap sah. Dalam perkara itu, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobari berhujjah dengan ijma’ (kesepakatan) ulama. Sedangkan Ibnul Mundzir telah menyebutkan tentang pendapat wajibnya mengulangi solat dari Al-Hasan Al-Basriy". (Syarah Sahih Muslim)


Kemudian An-Nawawi rahimahullah- berkata lagi, "Lalu mazhab jumhur (menjelaskan) bahwa larangan itu bersifat mutlak bagi orang yang solat dalam keadaan seperti itu, baik dia sengaja melakukannya untuk shalat atau karena ada maksud lain. Ad-Dawudiy berkata, "Larangan itu dikhususkan bagi orang yang melakukan untuk solat. Sedangkan pendapat yang shahih adalah pendapat yang pertama. Itulah lahiriah pendapat yang ternukil dari sahabat atau yang lainnya". (Syarah Sahih Muslim)


Berkongsi ilmu...(SUMBER)

Tangan Kanan Tangan Sendiri...Tangan Kiri Menuntut Diberi...


Anjuran Untuk Makan Dari Hasil Usaha Tangan Sendiri Dan Menahan Diri Dari Meminta Serta Menuntut Agar Diberi...




Allah Ta'ala berfirman: "Jikalau shalat telah diselesaikan, maka menyebarlah di bumi dan carilah rezeki dari keutamaan Allah," hingga habisnya ayat.
Surah Al-Jumu'ah (62,10)


Dari Abu Abdillah yaitu az-Zubair bin al-Awwam r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya - untuk mengikat - lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali - di negerinya - dengan membawa sebongkokan kayu bakar di atas punggungnya, lalu menjualnya,kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya - yakni dicukupi keperluannya, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya." (Hadis Riwayat Bukhari)


Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Niscayalah jikalau seseorang dari engkau semua itu mencari sebongkokan kayu bakar dan diletakkan di atas punggungnya, itu adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, kemudian orang yang dimintai itu memberinya atau menolak permintaannya." (Hadis Riwayat Bukhari Dan Muslim)


Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Adalah Nabi Dawud 'alaihis-salam itu tidak suka makan sesuatu, kecuali dari hasil usaha tangannya sendiri - yakni kerjanya." (Hadis Riwayat Bukhari)


Dari Abu Hurairah r.a. pula, bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Nabi Zakariya 'alaihis-salam itu adalah seorang tukang kayu." (Hadis Riwayat Muslim)


Dari al-Miqdad bin Ma'dikariba r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan, sekalipun sedikit, yang lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil usaha tangannya dan sesungguhnya Nabiullah Dawud 'alaihis-salam itu juga makan dari hasil usaha tangannya." (Hadis Riwayat Bukhari)



Sumber: Kitab Riyadus Solihin Oleh Imam Nawawi



Pembatas Solat....


HUKUM SATRAH  (Pembatas Solat)




Memasang sutrah hukumnya wajib bagi imam dan orang yang mengerjakan solat bersendirian. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW:

"Solatlah kalian dengan menghadap sutrah. Janganlah kalian membiarkan seorang pun melalui di hadapan kalian. Jika dia enggan (menyingkir dari hadapanmu), maka cegahlah dia kerana sesungguhnya bersama orang tersebut terdapat qarin [1]."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Sahihnya, dengan sanad jayyid)

Didasarkan juga pada sabda Nabi SAW:

"Jika salah seorang kalian solat menghadap sutrah, maka hendaklah ia mendekat padanya agar syaitan tidak memutus solatnya."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Bazzar, dan Al-Hakim. Ia mensahihkan riwayat ini dan hal ini disepakati oleh Az-Zahabi dan An-Nawawi)





Sabda Nabi SAW: "Jika salah seorang kalian solat menghadap sutrah" tidak berarti boleh solat tanpa menghadap sutrah. Sebab, mafhum hadis ini adalah: "Barangsiapa yang solat menghadap sutrah namun tidak mendekatinya, maka kemungkinan besar solatnya terputus kerana dilalui syaitan. Jika demikian, bagaimana pula dengan orang yang solat tanpa meletakkan sutrah?





Al-Albani dalam Tamaamul Minnah berkata: "Di antara sebab yang memperkuat kewajiban meletakkan sutrah adalah kerana ia merupakan wasilah syar'i yang mencegah batalnya solat seseorang dikeranakan lalunya wanita yang sudah baligh, keldai, dan anjing hitam (di hadapannya) sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis sahih. Di samping itu, berdasarkan larangan melintas dihadapan orang yang tengah mengerjakan solat dan hukum-hukum lain yang terkait dengan sutrah. As-Syaukani di dalam kitabnya, Nailul Authaar dan As-Sailul Jarraar, juga berpendapat akan wajibnya meletakkan sutrah. Pendapat dan ini merupakan zhahir perkataan Ibnu Hazm di dalam Al-Muhallaa."







Berkongsi ilmu..


If A Cloud Could Speak....Allah The Creator..






Everyone deserves water to drink, so shower your kindness on sinners and saints alike.

People will see different things in you: relief, or comfort, or a fearsome sign of a storm. Pay no attention to any of that; but do your job peacefully.

It’s a beautiful thing to provide shade on a hot day (to comfort those in distress).

You sometimes drift aimlessly, but by the will of Allah, you get in the right drift and current again.

Oppose evil with thunder and lightning, but with others be soft as cotton.

Not everything is what it seems: the darker the cloud, the more water it carries within, to cleanse the earth and bring new life.

Never forget, you are mainly made from water. Make sure to always replenish yourself with pure sustenance.

There’s a rainbow right behind the storm.

From Islamic Rays..

Monday, 1 October 2012

On Good & Bad Deeds…

A Crystal Oh Hadith..

Abû Dharr al-Ghifârî and Mu`âdh bn Jabal relate
that the Prophet (peace be upon him) said:

“Fear Allah wherever you are. Follow up a bad deed
with a good deed and it will blot it out.
And deal with people in a good manner.”

~ Sunan al-Tirmidhî ~

Ibn Rajab says: “This is powerful advice, bringing together
the rights of Allah and the rights of His servants.”

Saturday, 29 September 2012

Berhemahnya Memberi Teguran....Hikmahnya Dalam Penerimaan...






Asasnya, memberi teguran dan sentiasa memperbaiki diri dan orang lain tidak dapat dielakkan. Tidak dapat tidak, kita semua pasti akan terlibat di dalam proses ini. Bermula sejak kecil sehingga meniti ke hari tua.

Memberi teguran adakalanya membawa kesan positif. Tetapi sekiranya kaedah yang digunakan tidak sesuai, maka ia bakal membawa ke arah negatif dan secara tidak langsung ia membentuk sikap defensif bagi pihak yang ditegur. Oleh itu, mari kita lihat teknik teguran yang sesuai.

Betulkan Niat

Apabila terdetik sahaja dalam hati bagi menegur kesilapan orang lain, maka ‘pause’ diri kita terlebih dahulu dan tarik nafas. Betulkan niat supaya kita tidak terdorong untuk melampiaskan kemarahan ataupun rasa tidak puas hati di atas sikapnya.

Lazimnya, hati yang ikhlas memberi teguran akan lebih mudah diterima. Niat kita yang murni itu akan disampaikan oleh Allah dalam keadaan yang murni juga. Ini berlawanan sekiranya niat kita memberi nasihat dengan tujuan – tujuan lain, bukannya tujuan untuk membetulkan kesilapan untuk dibaiki.

Kesimpulannya, apabila mahu menegur seseorang itu, maka kaedah 'bawa berbincang' adalah kaedah terbaik. Elakkan daripada menyentuh peribadi pihak itu. Hal ini juga mampu membuatkannya lebih terbuka dalam menerima teguran itu.

Tegas Dalam Santun

Gunakan konsep dua dalam satu iaitu tegas dalam santun. Gunakan budi bahasa yang baik dan menyenangkan. Ini dapat mengurangkan kadar peratusan ‘terasa hati’ pada diri seseorang.

Namun, dalam kesantunan melakukan teguran, perlu ada ketegasan. Ini dapat memaparkan secara terus tentang hasrat kita yang bersungguh – sungguh dalam menegurnya. Kawal emosi secara bijak supaya orang yang ditegur tidak berasa dimarahi.

Ini bertepatan dengan firman Allah kepada Nabi Musa dalam misinya berdakwah kepada Firaun,

Pergi kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, berbicara dengannya menggunakan perkataan yang lembut, mudah – mudahan dia akan ingat dan merasa takut (Surah Taha, ayat 33 – 34)

Contoh :

Khairil, saya mintak maaf. Tetapi saya perlu sampaikan teguran ini kepada awak. Saya harap awak tidak lagi mengeluarkan kata – kata kesat pada rakan – rakan lain dan saya. Senang hati saya sekiranya awak dapat berubah.

Mula Dengan Sesuatu Yang Positif

Manusia mana yang suka ditegur? Pernah saya dimarahi secara umum apabila lewat tiba ke bilik mesyuarat. Perasaan saya pada waktu itu begitu tidak puas hati walaupun saya sedar kesalahan saya.

Kewajaran “7 kritik 1 puji” dapat digunakan dalam konsep ini. Kita mengambil hati orang yang mahu ditegur, kemudian baru kita menjalankan niat kita tadi. Sebagai contoh:

“Kamu ini saya tengok memang bagus, sembahyang tidak tinggal, hormat ibu bapa, guru – guru sayang kamu, kacak pula. Tapi, satu sahaja yang aku tidak berkenan. Perangai kamu yang suka membuka aurat tu..”

Tegur Secara Hikmah

Cara menegur setiap orang adalah berbeza-beza. Cara menegur kanak – kanak dan orang dewasa juga adalah berbeza. Menegur berlainan jantina juga adalah berbeza. Perhatikan Rules of Thumb ini

Apabila menegur cuba duduk di sebelah orang yang ditegur, bukan di hadapan. Kedudukan di tepi menyebabkan orang yang ditegur kurang berasa defensif berbanding kedudukan di hadapan.

Orang yang tinggi egonya, perlu diberi teguran secara cabaran yang dapat mencabar egonya sehingga dia mahu menunjukkan kebolehannya.

Kadangkala, ada orang yang membuat perangai kerana rasa tidak diperlukan. Orang sebegini perlu diberi lebih peluang memikul tanggungjawab yang lebih besar.


Nota rujukan:

1. Buku Give & Take Antara Hamba & Pencipta ( Nurulain Ahmad )

Muslimah Sejati Tidak Dilihat Dari.....







Muslimah sejati tidak dilihat dari jilbabnya yang anggun, tetapi dilihat dari kedewasaannya dalam bersikap.

Muslimah sejati tidak dilihat dari tangannya yang selalu membawa Al – Qur’an, tetapi dilihat dari hafalan dan pemahamannya akan kandungan Al – Qur’an tersebut.

Muslimah sejati tidak dilihat dari tundukan matanya ketika interaksi, tetapi bagaimana dia mampu membentengi hati.

Muslimah sejati tidak dilihat dari komitmennya dalam menjalankan kegiatan, tetapi dilihat dari keikhlasannya dalam bekerja.

Muslimah sejati tidak dilihat dari solatnya yang lama, tetapi dilihat dari kedekatannya pada Robb di luar aktiviti solatnya.

Muslimah sejati tidak dilihat kasih sayangnya pada orang tua dan teman – teman, tetapi dilihat dari besarnya kekuatan cinta pada Ar-Rahman Ar-Rahiim.

Muslimah sejati tidak dilihat dari rutin dhuha dan tahajjudnya, tetapi sebanyak apa titisan air mata penyesalan yang jatuh ketika sujud

Seorang muslimah sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di sebaliknya.

Muslimah sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana dia menutupi bentuk tubuhnya.

Muslimah sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang dia berikan tetapi dari keikhlasan dia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Muslimah sejati bukan dilihat dari kefasihan berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya dia berbicara.

Muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana dia berani mempertahankan kehormatannya.

Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhuatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhuatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

Muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang dia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana dia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Sumber^^